10 Kesalahan Yang Umumnya Dilakukan Pengusaha

cropped-13693036_10153883956232862_10289328086947159_o.jpg

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan para pengusaha di awal karirnya memulai suatu usaha. Boleh jadi sudah banyak orang mengemukakan topik seperti ini, namun saya memiliki pendapat lain berdasarkan proses belajar, pengalaman saya menjalankan bisnis, dan hasil berbagi pengalaman dengan teman-teman lain sesama pengusaha. Yuk, mari simak di bawah ini.

1. Tidak Memiliki Gambaran Besar Bisnis Yang Dirintisnya

Menjalankan suatu usaha memang mengasyikkan, apalagi di awal-awal karirnya biasanya memiliki jiwa dan semangat menggebu untuk segera membangun bisnisnya itu. Namun tidak banyak yang memulai bisnis dengan cara membangun gambaran besar bisnis yang dirintisnya tersebut. Ada yang menyebutnya sebagai Bussiness Blueprint, Arsitektur Bisnis, Gambaran Impian Bisnis, cita-cita bisnis, dan lain sebagainya.

“Tapi bagaimana jika saya sudah memulai bisnis sejak lama dan belum memiliki hal seperti ini, pak?!”. Menurut saya sih, engga jadi masalah juga asalkan sekarang juga membuatnya agar tidak berlarut dalam kesalahan itu.

“Saya bingung bagaimana membuat hal semacam ini…”. Saya bilang sih, ga usah bingung melulu, segera cari tau mau membuat bisnis yang anda jalani seperti apa besarnya. Justru kalau tidak memiliki gambaran besar bisnis anda, justru bisa jadi itu lah yang selama ini membuat bisnis anda engga kemana-mana.

Jadi, kalau belum punya, segera bikin ya teman…!!!

2. Tidak Memahami Konsep Rejeki Sesungguhnya

Tidak sedikit orang yang saya dengar kerjaannya mengeluh dan mengeluh lagi tentang bisnisnya, padahal saya menilai usahanya cukup besar ko! Ternyata konsep rejeki ini penting sekali dimiliki seorang pengusaha agar senantiasa menjadi pribadi yang banyak bersyukur, menghargai setiap hal kecil yang didapatnya, dan mau terus mengupayakan hasil yang bersih sesuai dengan ajaran agamanya. Kalo hartanya bersih, hidup pun akan terasa ringan. bahkan harta pun tidak mampu memperbudak diri kita.

Untuk konsep ini lain kali saya bahas lebih lanjut ya teman…saya janji deh…

3. Masih Menggunakan Mentalitas Pekerja

Mentalitas dalam menjalankan usaha memang berbda sekali dengan metalitas dalam bekerja dalam artian anda sebagai karyawan di suatu perusahaan atau instansi. Pada umumnya, mentalitas pekerja itu seperti: mau bekerja jika ada reward dari atasan atau bos, bekerja jika disuruh saja, bekerja jika ada bos, bekerja dengan cara menghitung waktu yang digunakan untuk bekerja, selalu semangat jika menjelang selesai waktu kerja atau saat akan menghadapi libur.

Mentalitas seorang pengusaha itu sangat penting dimiliki siapapun yang memiliki dan menjalankan usaha tersebut. Seorang pengusaha tidak pernah mengeluhkan kalau dia harus hampir selalu pergi pagi dan pulang larut malam, bahkan bisa jadi tidak pulang ke rumah (diwakili dengan lagu bang Toyib) selama beberapa waktu dalam rangka menjalankan dan mengembangkan karir bisnis nya tersebut.

Ia tidak pernah menunggu ada orang lain dulu yang “memecut” dirinya supaya termotivasi tinggi dan memiliki semangat membara dalam membangun usaha itu. Namun ia selalu menjaga mentalitas dan motivasinya dalam menjalankan usaha itu dengan segenap perjuangan dirinya.

Jadi, kalau mau jadi pengusaha baik, bangunlah mentalitas seorang pengusaha ya…!!

4. Mentalitas Keuangan Sangat Mengkhawatirkan

Memang kalau menjadi pengusaha itu sering kali menghadapi kenyataan bahwa, Wow…!!! rekening tabungan saya sudah 9 digit, 10 digit, bahkan lebih…terus sekarang saya mau belanja apa yaaa…??! HP baru apa ya kira-kira saat ini lagi ngtren..?! Saya mau belnja ini-itu…

Yang tolong digarisbawahi itu bagian: “saya mau belanja apa ya..”

Nah yang begini ini yang ga kuat banget liat duit. Bawaannya pengen ngabisin melulu, belanja melulu, konsumtif melulu. Bukan berarti ga boleh menikmati hasil jerih payah selama berusaha juga sih, namun tolong diatur jangan sampai sangat konsumtif. Kalau konsumtif, ujung-ujung akan habis tidak bersisa loh…!!

Disiplinkan diri supaya anda memberi alokasi konsumtif itu hanya berapa persen saja. Ingat, anda pun harus menghadapi masa di mana anda akan gagal mendapatkan client atau proyek, mengalami kerugian, membayar biaya tidak terduga, dan lain sebagainya. Jadi tolong diatur dengan baik yah…Jangan sampai anda menyesal kemudian gara-gara terlalu konsumtif dan boros.

5. Salah Cara Pandang Terhadap Pengeluaran

Nahhh… hal ini sering banget saya temui saat berbagi dan ngobrol dengan para pengusaha kelas menengah ke bawah. Mereka pada umumnya menganggap bahwa apapun yang mereka bayar atau harus mengeluarkan uang, semua itu adalah BIAYA BEBAN.

“Kang, saya mah ga mau banget ngurus perijinan halal dari MUI untuk produk makanan saya. Kalo diitung-itung, saya harus ngeluarin sekian juta cuma buat ijin naro logo MUI doank di kemasan saya. Mendingan saya pake aja buat beli bahan baku.”

Pernyataan itu yang bener-bener pernah saya dengar langsung dari mulut mereka. Saat mereka mengatakan hal tersebut saya jadi mengambil kesimpulan kalau ternyata apapun yang mereka bayar dengan uang, semua itu biaya beban. Padahal tidak semua hal yang dibayar dengan uang itu berupa biaya beban loh. Ada juga yang sebetulnya malah berupa investasi. Jadi, baiknya sih coba pilah-pilah mana pengeluaran yang bersifat investasi mana yang bersifat beban. Meskipun bentuk pengeluaran investasi itu ada yang berwujud dan ada yang tidak berwujud. Mudah-mudahan lain kali saya bahas lebih detil deh ya masalah ini.

6. Mentalitas Bossy

Hal yang berbeda dirasakan pengusaha, khususnys yang pernah mengalami fase menjadi seorang pegawai terlebih dahulu sebelum memulai karirnya sebagai pengusaha yaitu, anda mulai dipanggil “bos”. Meski pun kenyataan seperti itu, sering kali panggilan bos ini membuat senang yang berlebihan bagi sebagian orang. Sehingga, baru dibilang bos saja sudah langsung “murah tangan” memberi sesuatu, mentraktir, bahkan lupa diri. Pada tahap yang lebih parah, bisa jadi ia akan semena-mena terhadap orang-orang yang dipekerjakannya mentang-mentang dirinya sebagai bos mereka.

Plis dehhhh…!!!

7. Tidak Menjalankan Usaha Dengan Ilmunya

Nah tipe yang begini yang biasanya sok pinter padahal dia ga mau belajar. Menjalankan bisnis itu kalau tidak dengan ilmunya, bisa jadi engga akan berhasil usahanya. Apapun yang diupayakannya seringkali menemui kegagalan. Sering juga mengalami kerugian yang padahal seharusnya tidak perlu terjadi loh…!!! Jadi kesalahannya dimana coba…?!

8. Tidak Memiliki Panutan Berbisnis

Berbisnis, mendirikan usaha, dan membesarkannya itu tidak beda halnya dengan belajar. Dalam proses belajar diperlukan adanya alter ego atau contoh sosok pengusaha yang dapat dijadikan contoh sebagai panutan dalam menjalankan bisnis anda itu. Yang namanya sosok panutan itu sudah seharusnya mencerminkan keberhasilan diri dengan pembuktian secara fakta bahwa ia dapat dikatakan berhasil menjadi seorang pengusaha yang sukses dan layak dijadikan panutan. Sosok seperti ini bisa jadi siapa pun. Tidak harus orang terkenal senasional, bahkan sedunia. Bisa jadi sosok tersebut adalah keluarga kita yang sudah dianggap berhasil dalam usahanya. Adanya sosok panutan ini memberikan motivasi tersendiri dalam berbisnis. Menjadikan diri kita bergairah dan memiliki target minimal bisa menyamai panutan kita itu. Bukan tidak mungkin loh kita bisa melebihi prestasi panutan kita di dunia ini. Jadi ayo segera temukan sosok itu kalau anda belum memilikinya.

9. Mencampur-adukkan Kantong Usaha dan Kantong Pribadi

Nahhh…ini banget yang bikin “darah usaha” semakin ga lancar, mandek, bahkan bikin usaha menjadi pailit. Masalah keuangan yang mencampur-adukkan antara keuangan pribadi dengan keuangan usaha adalah mimpi buruk bagi usaha anda sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang melakukan hal seperti ini malah bingung bahkan merasa usahanya tidak bisa besar-besar seperti yang diharapkan. Ambil pinjaman pun masih juga ditarik-tarik dengan kebutuhan pribadi ini-itu.

Loh, pak…kan itu uang hasil usaha saya sendiri, jadi terserah saya donk mau saya apakan uang itu…

bener sihhh…itu uang anda…katanya anda sendiri pengen banget bisa maju usahanya. lah kalo keuangan seperti ini saja tidak dapat di-manage dengan baik, bagaimana anda bisa memiliki bisnis yang besar donk…?!

Kalo hal seperti ini saya sangat salut dengan prinsip dagang orang China. mereka disiplin sekali masalah seperti ini. bukan berarti mengajarkan untuk pelit lo ya…!!! Tapi memang harus nya begitu. Bilamana ada kebutuhan pribadi atau keluarga sehingga anda butuh uang yang sebetulnya milik perusahaan anda sendiri, ya anggap saja anda meminjam kepada perusahaan anda itu dan nanti harus anda kembalikan supaya perusahaan anda itu tidak merugi bahkan pailit.

Iyh…bapak suka lucu deh…!!! masa saya berhutang pada diri saya sendiri…?!

kalo kalimat ini masih diucapkan…mending saya pergi aja deh yahhhh…

hehehehehe…

10. Malas Mencatat Historis Keuangan

Pernah dalam suatu forum berbagi ilmu di suatu kota yang saya hadiri ada seorang bapak tua, yang ngakunya pengusaha besar di kota itu menghadiri sesi materi mengenai pengelolaan keuangan yang baik bagi UMKM yang disampaikan oleh teman saya,  berujar:

“pak kalo kami tidak pernah mau mencatat apa yang kami keluarkan. apa yang kami keluarkan ya sudah lah keluarkan saja tidak perlu diingat. kalo model itu persis kaya orang c**** banget…!!! dan saya ga mau menjadi yang seperti itu..!!”

helooowww…!!!

udah sih ndablek, ga mau terima ilmu, eh rasis pula…!!!

Dalam benak saya yang seperti komik atau film animasi sih…pengen pula ta kasi jurus hadouken pada bapak itu…

Mencatat historis keuangan itu sangat penting. Engga ada sejarahnya ada usaha yang bisa besar tapi engga pernah mau mencatatkan historis keuangannya sendiri.

“ahhh…kang…usaha saya mah masih kecil…belum perlu dicatat-catat…kalo perlu dicatat buat saya mah hutang saya ajah yang menumpuk itu bikin miris hati…”

Dalam hati saya…hmmm pantesan aja usaha kamu segitu-gitu ajah…mimpi ajah kmu pengen punya usaha besar dan maju tapi semua itu cuma dimimpikan saja…Hutang aja yang kmu catet, tapi penghasilan kamu ga pernah dicatat. Gimana caranya kamu merasa punya pengahsilan yang besar kalo begitu melulu…

Proses mencatat keuangan usaha itu juga bagian dari usaha yang menggunakan ilmu keuangan. Engga ada usaha yang engga melibatkan ilmu keuangan. Jadi, yah lakuin aja lah ga usah banyak alesan…!!! hehehehe

“Tapi pak, saya ga paham akuntansi apalagi manajemen keuangan…”

kalo gitu cari tau lah dan belajar lah ilmu itu. meskipun diterapkan dengan cara sederhana, itu lebih baik dari pada engga sama sekali…

Advertisements

One thought on “10 Kesalahan Yang Umumnya Dilakukan Pengusaha

  1. wwuiihhh…. i like this… pengusaha itu berani ambil resiko….. target dan rencana harus sejalan juga…jgn hanya rencana saja… bermimpi dgn action…aahhh kagak selesai2 ini mah…panjang yg mo d bahas…. yg jelas… g perlu kasih tau org banyak kalo kite pengusaha….cukup buktikan…😊😊 dn jalankan trik d atas…hehehhe. 10 jempol anee yeee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s