Ini Murah Atau Mahal Ya

Cheap versus Expensive messages

Sering kali saat orang berbelanja, mereka menyatakan barang yang akan dibelinya itu mahal atau malah murah. Mereka menilai mahal atau murahnya barang itu hanya berdasarkan perbandingan harga barang yang akan dibelinya itu dibandingkan dengan barang lain yang sejenis. Hal ini sudah menjadi lumrah dilakukan masyarakat termasuk saya dan juga anda sebagai pembaca. Namun sudah benar dan tepat kah penggunaan pernyataan mahal atau murah ini?! Saya pun pada awalnya memiliki paradigma umum yang sama seperti ini hingga saya mempelajari konsep pengenaan harga pada barang atau jasa. Ternyata paradigma apa yang kita miliki mengenai harga perlu diluruskan.

Sebelum kita membahas mengenai harga lebih lanjut, saya akan membahas mengenai produk itu sendiri terlebih dahulu. Pada dasarnya, produk terdiri dari dua macam, yaitu produk barang dan produk jasa. Pada produk sebetulnya terkandung di dalamnya yaitu janji kepuasan dan nilai (value) pada kualitas tertentu. Tingkat kepuasan setiap orang pun akan berbeda-beda, tergantung pada persepsi, pemahaman, waktu (timing) saat mengkonsumsi, mood, dan faktor situasional lainnya. Pada level kualitas tertentu, produk pun dapat memberikan kebanggaan (proudness), harga diri, gaya hidup, dan gengsi pribadi bagi para pemakainya. Setiap produk memiliki level kualitas yang berbeda-beda tergantung strategi bisnis yang dilakukan produsen melalui produk yang mereka tawarkan. Oleh karenanya, produk merupakan perwakilan perwujudan janji dari produsen untuk memberikan kepuasan tertentu bagi siapa saja yang mengkonsumsi produk mereka.

Dikarenakan pada produk terdapat kualitas dan juga janji kepuasan yang akan diterima konsumen bahkan memungkinkan sampai perwujudan harga diri, maka harga yang dikenakan pun disesuaikan. Di samping hal tersebut, sebetulnya merek (brand) pun memiliki rating di mata konsumen. Semakin merek tersebut dikenal banyak orang, bahkan memiliki rating tertinggi di mayoritas masyarakat (Top of Mind), maka pengenaan harga pun menjadi semakin elastis. Sehingga seharusnya label mahal atau murahnya suatu produk bukan dikarenakan perbandingan harga satu produk dengan harga produk yang lainnya. Hal seperti ini tidak memiliki relevansi terhadap sesuatu yang dikandung pada produk tersebut.

Mahal

Akan lebih baik bilamana produk tersebut dikatakan mahal jika uang yang dikorbankan konsumen untuk membeli produk yang diinginkan ternyata tidak memberikan nilai (value) manfaat dengan tingkat kepuasan yang seperti harapannya sebelum membeli produk tersebut. Tingkat nilai manfaat dan kepuasan yang diterima saat mengkonsumsi dan setelah mengkonsumsi produk lebih kecil daripada uang yang sudah dikorbankan.

Murah

Begitu pun dengan penyataan murah yang akan lebih baik jika dibandingkan dengan nilai manfaat dan kepuasan. Dikatakan murah bilamana uang yang dikorbankan oleh konsumen ternyata nilai nya jauh lebih kecil dari pada nilai manfaat dan kepuasan yang diterimanya.

Dengan demikian, mahal, murah, akan ditentukan oleh konsumen itu sendiri. Dan hal ini menjadi penilaian yang bersifat personal. Sebagai contoh saya berikan studi kasus sebagai berikut:

Membeli Smart Phone

Bilamana anda diberikan pilihan apakah memutuskan untuk membeli Smart Phone dengan dua pilihan sebagai berikut:

capture-spec-apple-iphone-6pluscapture-spec-asus-zenfone3-ultra

Apple iPhone 6 Plus 128GB dibandrol dengan harga baru senilai Rp 11.500.000, sementara Asus Zenfone 3 Ultra dibandrol dengan harga baru senilai Rp 8.099.000

Harga ini saya ambil dari situs : http://www.digitalponsel.com/ per 28 September 2016

dari pilihan smart phone tersebut berdasarkan paparan saya di atas, mana yang lebih mahal? mana yang lebih murah?

Bagi sebagian orang menganggap membeli iPhone6plus itu murah, namun sebagian orang yang lain menganggap membeli Zenfone 3 Ultra itu murah. Tidak menutup kemungkinan lain bahwa membeli iPhone6plus itu mahal sementara yang lain menganggap membeli Zenfone 3 Ultra itu mahal. Bahkan sebagian orang yang lain akan menganggap bahwa membeli salah satu dari keduanya tidak lah mahal dan tidak lah murah.

Penilaian mahal atau murahnya produk tersebut sah-sah saja dilakukan konsumen selama tidak membandingkan harga dengan harga namun membandingkan harga dengan nilai (value) manfaat dan kepuasan (satisfy) yang diterimanya, dan penilaian tersebut bersifat pribadi.

Gampangnya ada beberapa hal yang dapat dijadikan indikator penentuan mahal, yaitu:

  1. Sangat tidak puas dengan produk
  2. Menyesal membeli produk itu
  3. Menjual kembali produk itu karena menyesal (bukan karena butuh uang atau sudah bosan)
  4. Memikirkan kembali dengan berandai-andai memilih produk yang lain pada saat transaksi dulu
  5. Memberi testimoni negatif di media sosial dan teman-teman
  6. Fitur-fiturnya tidak semua dapat dipergunakan dengan baik

 

Source:

Main Picture : http://www.francescolejones.com/wp-content/uploads/2015/06/bigstock-Cheap-versus-Expensive-message-80486654.jpg

Capture Smart Phone Specification : http://www.gsmarena.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s